Epigrafi
Epigrafi

Pengertian Dan 16 Para Ahli Perintis Epigrafi

Posted on

Pengertian Dan 16 Para Ahli Perintis Epigrafi – Epigrafi dari bahasa Yunani yang berarti “menulis”, “prasasti” adalah cabang arkeologi yang berusaha untuk menilai benda tertulis dari masa lalu. Salah satu contoh adalah prasasti. Prasasti merupakan sumber bukti tertulis (dalam bentuk tulisan atau gambar) di masa lalu yang bisa memberikan informasi tentang kejadian di masa lalu, asal seorang raja atau pemimpin atau silsilah atau kalender.

Epigrafi
Epigrafi

Tujuan Epigrafi

http://www.dosenpendidikan.com/ Epigrafi dimaksudkan bahwa prasasti yang ditemukan di penggalian dapat dibaca. Selain itu, tujuan dari prasasti ini tidak dapat dihapus dengan tujuan arkeologi. Tujuan dari arkeologi adalah untuk merekonstruksi sejarah masa lalu berdasarkan apa yang dapat dipulihkan dengan keterampilan dan penguasaan metode penggalian pada objek dari masa lalu. Jika objek tetap dalam bentuk prasasti, para ahli epigrafi akan mengelolanya untuk tahu kapan itu terjadi, siapa pemimpin pemerintahan serta apa isi yang terkandung di prasasti.

Tugas Seorang Epigraf

Epigrafi ahli, yang juga disebut epigraf, memiliki kemampuan untuk menganalisis tulisan dengan kemampuannya untuk membaca tulisan kuno, baik dalam bentuk rune dan bahasa kuno. Tugas seorang epigraf tidak hanya memeriksa prasasti yang belum dipublikasikan tetapi juga mengamati prasasti yang telah diterbitkan di saat transkripsi. Kemudian prasasti ahli epigrafi harus menerjemahkannya ke dalam bahasa yang digunakan saat ini sehingga peneliti lain, khususnya sejarawan dapat menggunakan berbagai informasi yang terkandung dalam prasasti.

Dalam menjalankan tugasnya, para ahli epigrafi bertemu banyak berbagai macam rintangan. Menurut arkeolog Indonesia yang menekuni bidang epigrafi adalah Drs.Hasan Djafar, masalah pertama adalah bahwa banyak prasasti terutama prasasti batu, yang sudah dalam keadaan usang sehingga sulit untuk dibaca.

Epigraf harus membaca bagian-bagian yang aus berkali-kali untuk mendapatkan pembacaan yang memuaskan. Dengan mengontrol bentuk surat kuno dengan semua kurva likunya, dan dengan terus-menerus membandingkan huruf dikenakan dengan huruf yang masih belum jelas, seorang ahli epigrafi mencoba untuk mendapatkan bacaan yang lengkap.

Kedua, dihadapkan dengan waktu untuk menerjemahkan prasasti. Pengetahuan tentang bahasa-bahasa kuno yang digunakan dalam prasasti tersebut masih belum cukup untuk memahami makna yang terkandung dalam naskah.

Epigrafi pakar detektif yang mencari tahu tentang kehidupan dan peristiwa masa lalu melalui kode-kode rahasia dalam bentuk huruf atau gambar melalui kemampuannya untuk menganalisis.

Sehingga masyarakat, khususnya sejarawan dan arkeologi, informasi sejarah yang jelas dan valid. Sebuah prasasti ahli yang diperlukan dalam memecahkan catatan sejarah yang ditulis oleh orang-orang dari masa lalu untuk memahami masyarakat saat ini.

Perintis Epigrafi Indonesia

Sir Thomas Stamford Bingley Rafles:

Dia telah mengumpulkan beberapa prasasti dan mencoba untuk menerjemahkannya dengan bantuan beberapa pihak, seperti Panembahan Sumène dan beberapa orang Bali. Melalui Raffles, penelitian epigrafi mulai terbuka lebar di Indonesia. Dia adalah prasasti Pucangan kirim ke Calcutta saat prasasti itu ditemukan pada masa pemerintahannya di Indonesia.

CJ van der Vlis:

Dia meneliti beberapa prasasti di kompleks candi Sukuh dan Ceto. Ia dibantu oleh R.Ng. Ronggowarsito dalam penelitian ini.

RH Theodore Friedrich:

Ini adalah batu fondasi untuk studi epigrafi sistematis. Sistematika yang disediakan oleh Friederich kemudian digunakan oleh epigraf berikutnya, misalnya Kern dan Cohen.

Caspar Johan Hendrik Kern:

Mengkaji dan membandingkan huruf Kawi dengan huruf yang ada di Indonesia. Ia menyimpulkan, bahwa surat Jawa, Sunda, Madura dan Bali merupakan pengembangan langsung surat Kawi.

Karel Frederik Holle:

KFHolle upaya besar yang dilakukan adalah menyusun daftar abjad / huruf yang terdapat di Indonesia sebagai pengantar menuju Palaeografi Indonesia. Di dalamnya ia bekerja pada surat yang ditemukan dalam prasasti, surat masih digunakan di daerah-daerah di Indonesia, serta berusaha untuk menemukan bentuk asli dari huruf-huruf dalam alfabet yang beberapa di India.

Dia mengklasifikasikan bentuk berdasarkan huruf. Dasar pengelompokan yang digunakan Holle tidak jauh berbeda dari Kern. Kelompok pertama Kern (Kawi-Kamboja-Pali) oleh Holle disebut pola Kamboja, kelompok kedua Kern (Wenggi-Cera) oleh Holle disebut pola Calukya atau Wenggi, kecuali bahwa masih ada satu pola yang lebih, yaitu pola Nagari.

AB Cohen Stuart:

Awalnya ia melakukan penelitian terhadap teks-teks sastra Kawi dan menulis hasil penelitian mereka, dan kemudian dia tertarik pada prasasti. Bersama JJvan Limburg Brouwer ia mulai meneliti empat prasasti, prasasti Wukiran (Pereng), Kandangan, Wayuku (Dieng) dan Kinewu. Prasasti keempat diterbitkan hanya dalam bentuk terjemahan interpretasi pengantar dari kata-kata tanpa prasasti.

Bisnis yang melakukan itu perbaikan penerbitan prasasti yang ada, pendaftaran kembali prasasti yang pernah ditemukan di sepanjang daftar referensi kertas, proposal untuk menerbitkan prasasti lengkap dan kepentingan unttuk menyeluruh lebih dekat. Akhirnya, ia menerbitkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dalam bentuk faksimili dan transkripsi.

Jan Laurens Andries Brandes:

Hasil pertama epigrafinya prasasti prasasti Kalasan dan Guntur. Dari kedua prasasti tersebut ia sampai pada kesimpulan bahwa ketika orang-orang India yang datang ke Indonesia, mereka menemukan sebuah komunitas dengan budaya tinggi dan juga susunan pemerintahan yang sah telah mulai teratur di Indonesia, proses hukum dan pengambilan keputusan sebagai itu tidak ada di India.

NJ Chrome:

Upaya awal krom di bidang epigrafi yang kembali diperiksa publikasi tulisan sebelumnya, melanjutkan atau mengolah kembali Brandes pekerjaan yang belum selesai dan membuat inventarisasi prasasti diberi nomor tahun yang pernah ditemukan.

F.D.K. Bosh:

Penelitian tentang prasasti yang Kelurak, Kalasan, dan Ratuboko dimaksudkan untuk mencari adegan budaya adalah latar belakang dari semua aktivitas artistik pada gambar waktu tertentu dari kehidupan religius.

W.F. Stutterheim:

Konsep dianggap bahwa penerbitan sebuah budaya kuno Indonesia harus dianggap sebagai budaya Indonesia, sedangkan pengaruh India yang tidak peduli seberapa besar hanya tambahan saja.

R.M.Ng. Poerbatjaraka:

Poerbatjaraka pengetahuan tentang bahasa Kawi membawanya berkenalan dengan prasasti. Karya yang dihasilkan dalam bentuk prasasti Kamban transkripsi dan sebuah prasasti dari desa Pengging, Boyolali, mengupas dari prasasti yang ditemukan di Desa Batutulis dekat Bogor, diskusi prasasti terukir pada patung Aksobhya di Simpang dan prasasti transkripsi yang tersimpan di Museum Solo . Dalam disertasinya juga berisi studi prasasti Canggal, Dinaya, Wukiran (Pereng), salah satu prasasti Raja Mulawarman Kutai dan prasasti Pintang Mas.

P.V. van Stein Callenfels:

Ia berperan dalam membuka jalan pengetahuan tentang prasasti Bali, yang sebelumnya telah dibahas oleh van der Tuuk dan Brandes.

Rudolf Goris:

Penelitian khusus pada prasasti Bali dan mencurahkan perhatian pada prasasti bahasa Bali kuno.

Gijsbertus Johannes (Hans) de Casparis: Dia menekankan pentingnya memeriksa bagian dalam prasasti yang dapat memberikan gambaran tentang kehidupan kuno masyarakat Indonesia. Hasil penelitian pertama adalah sebuah prasasti dating kembali ke Majapahit, dengan desa-desa dan Walandit Himad. Hasil penelitian yang dapat dibanggakan adalah seri publikasi prasasti Indonesia yang terdiri dari dua jilid.

Volume pertama dari masalah rajakula Sailendra, sedangkan yang kedua adalah prasasti koleksi jiid dari abad ketujuh hingga abad kesembilan Jilid pertama, ia mengeksplorasi secara mendalam prasasti Hampran (Plumpungan), prasasti Ratabaka, Karangtengah prasasti (Karangtengah), prasasti Gondosuli II dan dua prasasti Tri Tepusan nama Sri Kahulunan.

Semua dari mereka yang digunakan untuk merekonstruksi tiga hal: Sailendra rajakula sejarah secara keseluruhan, pertumbuhan Buddhisme selama pemerintahan rajakula Sailendra dan melokalisasi bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti. Akibat lainnya adalah yang menawarkan studi khusus dari masyarakat Indonesia kuno dan tentang pemerintahan raja Airlangga.

Louis Charles Damais:

Damais kontribusi yang paling penting bagi epigrafi Indonesia adalah metode untuk menentukan perhitungan yang tepat dari elemen hari, tanggal, bulan dan tahun di Indonesia tanggal kuno umumnya ditemukan di prasasti atau naskah lainnya.

Boechari: Dia adalah murid R.M. Ng. Poerbatjaraka.

Sumbangan terutama terkandung dalam kumpulan studi epigrafinya prasasti transliterasi dan tulisan-tulisan yang membahas berbagai aspek arkeologi dan sejarah, khususnya mengenai sistem administrasi dan birokrasi kerajaan, sistem hukum, dan sistem perpajakan pada saat orang Jawa kuno .

Demikian Ulasan Tentang Pengertian Dan 16 Para Ahli Perintis Epigrafi Semoga Bermanfaat Buat Para Sahabat Setia Dosenpendidikan.Com 😀