“Politik Etis” Pengertian & ( Palaksanaan – Tokoh Pencetus – Isi – Tujuan )

“Politik Etis” Pengertian & ( Palaksanaan – Tokoh Pencetus – Isi – Tujuan )
1 (20%) 1 vote

“Politik Etis” Pengertian & ( Palaksanaan – Tokoh Pencetus – Isi – Tujuan )

DosenPendidikan.Com – Untuk kali ini kami akan membahas mengenai politik etis yang dalam hal ini meliputi pengertian politik etis, pelaksanaan politik etis, tujuan politik etis, isi politik etis dan tokoh pencetus, untuk lebih jelasnya simak saja pemaparannya dibawah ini.

Pengertian Politik Etis

Dalam hal ini sebenarnya apakah sih yang dimaksud dengan politik etis..?? Politik etis atau “Politik Balas Budi” merupakan suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.

Pelaksanaan Dalam Politik Etis

Dalam perubahan politik ini negeri Belanda membawa pengaruh bagi kebijakan pada negara-negara jajahan Belanda, termasuk Indonesia “Hindia Belanda”. Golongan liberal di negeri Belanda yang mendapat dukungan yang besar dari kalangan masyarakat, mendesak pemerintah Belanda untuk meningkatkan kehidupan di wilayah jajahan.

Yang dalam hal ini salah satu penganut politik liberal ialah Van Deventer.C.Th.van Deventer yang merupakan salah seorang tokoh penganjur “pencetus” Politik Etis. Desakan ini mendapat dukungan dari pemerintah Belanda, dalam pidato negara pada tahun 1901, Ratu Belanda, Wihelmina mengatakan:

“Negeri Belanda mempunyai kewajiban untuk mengusahakan kemakmuran dari penduduk Hindia Belanda”.

Yang hal demikian pidato tersebut menandai awal kebijakan memakmurkan Hindia Belanda yang dikenal sebagai Politik Etis atau Politik Balas Budi.

Tokoh-Tokoh Pencetus Politik Etis

Yang keberadaan Politik Etis di Hindia Belanda ketika itu, setidaknya diwarnai oleh sosok-sosok mereka, baik sebagai inisiator, fasilitator, eksekutor maupun kritikus dari kebijaksanaan tersebut.

Nah berikut ini tokoh-tokoh Belanda yang mewarnai Politik Etis yang diantaranya yaitu:

  • Eduard Douwes Dekker “1820-1887”
  • Pieter Brooshooft “1845-1921”
  • Conrad Theodore van Deventer “1857-1915”
  • Jacques Henrij Abendanon “1852-1925”
  • Dr. Douwes Dekker “1879-1950”

Keberadaan Politik Etis di Hindia Belanda ketika itu, setidaknya diwarnai oleh sosok-sosok mereka, baik sebagai inisiator, fasilitator, eksekutor maupun kritikus dari kebijaksanaan tersebut.

Tujuan/Isi Politik Etis

Adapun tujuan “Isi” Politik Etis yaitu:

  • Edukasi ialah menyelenggarakan pendidikan.
  • Irigasi ialah membangun sarana dan jaringan pengairan.
  • Transmigrasi/imigrasi ialah mengorganisasi perpindahan penduduk.

Politik etis yang dalam hal ini dilaksanakan Belanda dengan melakukan perbaikan bidang irigasi, pertanian, transmigrasi dan pendidikan, sepintas kelihatan mulia. Namun di balik itu, program-program ini dimasudkan untuk kepentingan Belanda sendiri.

Munculnya Elite Nasional “Kaum Terpelajar Pribumi”

Yangs salah satu dampak pelaksanaan Politik Etis ialah melahirkan golongan cerdik, karena berkat diselenggarakannya pendidikan “cendikiawan”. Sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu ialah HIS “Hollands Inlandsche School” yang diperuntukkan bagi keturunan Indonesia asli yang berada pada golongan atas, sedangkan untuk golongan Indonesia asli dari kelas bawah disediakan sekolah kelas dua.

Dalam pendidikan tingkat menengah disediakan HBS “Hogere Burger School”, MULO “Meer Uiterbreit Ondewijs”, AMS “Algemene Middlebared School”, di samping itu ada beberapa sekolah kejuruan/keguruan seperti Kweek School, Normal School.

Adapun untuk pendidikan tinggi, ada Pendidikan Tinggi Teknik “Koninklijk Institut or Hoger Technisch Ondewijs in Netherlands Indie”, Sekolah Tinggi Hukum “Rechshool”, dan Sekolah Tinggi Kedokteran yang berkembang sejak dari Sekolah Dokter Jawa, Stovia, Nias dan GHS “Geneeskundige Hooge School”.

Pendidikan kesehatan “kedokteran tersebut di atas” yang sejak 2 Januari 1849 semula lahir sebagai sekolah dokter Jawa, kemudian pada tahun 1875 diubah menjadi Ahli Kesehatan Bumi Putra “Inlaends Geneekundige”. Dalam perkembangannya pada tahun 1902 menjadi Dokter Bumi Putra “Inlands Arts”, Sekolah ini diberi nama STOVIA “School Tot Opleiding Van Indische Artsen” kemudian pada tahun 1913 diubah menjadi NIAS “Netherlands Indische Artesen School”. Dengan kemajuan di bidang pendidikan ini maka melahirkan golongan cerdik dan pandai yang mulai memikirkan perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi penjajah.

Demikianlah pembahasan mengenai “Politik Etis” Pengertian & ( Palaksanaan – Tokoh Pencetus – Isi – Tujuan ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Baca Juga: