Artikel Tentang Fabel

Diposting pada

Artikel Tentang Fabel – Untuk pembahasan kali ini kami akan memberikan ulasan mengenai Fabel yang dimana dalam hal ini meliputi Pengertian, Ciri, Struktur, Kaidah dan Contoh, nah agar lebih dapat memahami dan mengerti simak ulasan selengkapnya dibawah ini.

Fabel Adalah

Pengertian Fabel

Secara estimologis fabel berasal dari bahasa latin fabulat. Cerita fabel merupakan cerita tentang kehidupan binatang berperilaku menyerupai manusia.

Fabel termasuk jenis cerita fiksi,bukan kisah tentang kehidupan nyata. Cerita fabel sering juga disebut moral karena pesan yang ada didalamnya yang juga berkaitan dengan cerita moral.


Pengertian Fabel Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian fabel menurut para ahli, antara lain sebagai berikut:


1. Menurut KBBI

Fabel berasal dari bahasa Inggris, yaitu “Fable” artinya cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang diperankan oleh hewan.


2. Menurut (Danandjaja, 2002, h. 26)

Tokohnya: Bintangan peliharaan dan hewan liar yang dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia.


Ciri-Ciri Fabel

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri fabel, antara lain sebagai berikut:

  • Bersifat Fiksi
  • Tokoh para binatang bisa berbicara seperti manusia
  • Kata Pembuka biasanya pada zaman dahulu, pada suatu hari, alkisah.
  • Watak tokoh para bnatang digambarkan ada yang baik dan ada yang buruk (seperti watak manusia).
  • Cerita memiliki rangkaian peristiwa yang menunjukkan kejadian sebab-akibat. Rangkaian sebab- akibat diurutkan dari awal sampai akhir.
  • Penceritaan Pendek
  • Menunjukkan penggambaran moral
  • Fabel menggunakan latar alam (hutan, sungai, kolam, dll).
  • Ciri bahasa yang digunakan,yaitu:
    1. Kalimat naratif/ peristiwa
    2. Kalimat langsung yang berupa dialog para tokoh,
    3. Menggunakan kata sehari-hari dalam situasi  tidak formal (bahasa percakapan).

Struktur Teks Fabel

Berikut ini terdapat beberapa struktur teks fabel, antara lain sebagai berikut:

  1. Tokoh: orang/ hewan yang menjadi pelaku dalam cerita (tokoh protagonis, atau antagonis, tokoh utama atau  tokoh pembantu).
  2. Ciri tokoh utama adalah (1) sering dibicarakan; (2) sering muncul; dan (3) menjadi pusat cerita (menggerakkan jalan cerita). Tokoh pembantu adalah tokoh tambahan.
  3. Penokohan: pemberian karakter pada tokoh. Karakter bisa bersifat protagonis/yang disukai atau tokoh antagonis/yang  tidak disukai.
  4. Watak tokoh  dapat  disimpulkan  dari  penggambaran  fisik, penggambaran tindakan tokoh, dialog tokoh, monolog, atau komentar/ narasi penulis terhadap tokoh.
  5. Setting atau latar adalah tempat dan waktu kejadian serta suasana dalam cerita. Ada tiga jenis latar, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
  6. Tema adalah gagasan yang mendasari cerita. Tema dapat ditemukan dari kalimat kunci yang diungkapkan tokoh, atau penyimpulan keseluruhan peristiwa sebab-akibat pada cerita.
  7. Amanat adalah  pesan  yang disampaikan    penulis  secara tidak langsung. Amanat disimpulkan dari sikap penulis terhadap permasalahan yang diangkat pada cerita.

Jenis-Jenis Fabel

Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis fabel, antara lain sebagai berikut:

1. Ditinjau dari pemberian watak dan latarnya, dibedakan fabel alami dan fabel adaptasi.

  • Fabel alami atau Tradisional menggunakan watak tokoh binatang seperti pada kondisi alam nyata. Misalnya, kura-kura  diberi watak lamban.
  • Fabel adaptas atau Modern adalah fabel yang memberikan watak tokoh dengan mengubah  watak aslinya pada dunia  nyata dan  menggunakan tempat-tempat  lain sebagai latar (di rumah,   di jalan raya). Misalnya, landak yang pemalu berulang tahun di rumah makan.
  • Fabel FIksi Ilmiah, yaitu ceritanya dipengaruhi sain dan teknologi.

2. Ditinjau dari kemunculan pesan dibedakan fabel dengan koda dan tanpa koda.

  • Fabel dengan koda,  yaitu fabel dengan  memunculkan  secara eksplisit pesan pengarang di akhir cerita.
  • fabel tanpa koda, yaitu tidak memberikan secar eksplisit pesan pengarang di akhir.

Unsur Intrinsik Fabel

Berikut ini terdapat beberapa unsur intrinsik fabel, antara lain sebagai berikut:


1. Tema

2. Alur

Cerita fabel ini menggunakan alur maju, dari mulai kelinci dan kura-kura bertemu, kemudian kelinci mengajak kura-kura beradu kecepatan, dan akhirnya si kura-kura lah pemenangnya.


3. Latar

Di jalan, ketika kelinci bertemu kura-kura dan mengejek kura-kura yang lambat dalam berjalan.


Dibawah pohon beringin, kelinci mengajak kura-kura untuk bertanding adu cepat dengan wasit serigala.

Liat Juga : Pengertian Cerita Rakyat Beserta Ciri, Jenis Dan Contohnya


4. Penokohan

  • Kelinci: Angkuh, Sombong dan Egois.
  • Kura-Kura: Sabar, Rendah Hati dan Pantang Menyerah.
  • Serigala: Bersifat netral (tidak memihak siapapun)

5. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa tidak baku.

6. Amanat

Kita tidak boleh sombong terhadap orang lain dengan kelebihan yang kita miiki, karena kesombongan merupakan sifat yang tidak baik,


Kaidah Kebahasaan Teks Fabel

Berikut ini terdapat beberapa kaidah kebahasaan teks fabel, antara lain sebagai berikut:

1. Kata Kerja

Antara lain sebagai berikut:

  • Kata kerja aktif transitif

Kata kerja yang memerlukan objek. Contoh : memegang, mengangkat.


  • Kata kerja aktif intransitive

Kata kerja aktif yang tidak memerlukan objek. Contoh : diam.


2. Kalimat Aktif & Pasif

Antara lain sebagai berikut:

  • Kalimat Aktif : Sang semut melihat sebuah kepompong.
  • Kalimat Pasif: Sebuah kepompong dilhat oleh sang semut.

3. Penggunaan kata Si dan Sang.

Pada penggunaan kata Si dan Sang pada teks fabel, seperti Si Kancil dan Sang Semut.


4. Penggunaan kata keterangan, tempat dan waktu

Keterangan tempat biasanya digunakan kata depan “di” dan keterangan waktu biasanya digunakan kata keterangan “pada”.

Liat Juga : 34 Perbedaan Teks Dongeng Dengan Teks Anekdot


Cara Membuat Teks Fabel

Berikut ini terdapat beberapa cara membuat teks fabel, antara lain sebagai berikut:

  1. Tentukan tema.
  2. Buatlah kerangka.
  3. Buatlah ide pokok atau gagasan
  4. Hubungkan antar ide pokok pada setiap bagian.
  5. Menyusun teks
  6. Baca dan ulangi lagi.

Contoh Teks Cerita Fabel

Berikut ini terdapat beberapa contoh teks cerita fabel, antara lain sebagai berikut:


CERITA SNOW WHITE


(Orientasi)
Suatu ketika, hiduplah seorang gadis bernama Snow White. Dia tinggal bersama paman dan bibinya, karena orang tuanya telah meninggal.


(Komplikasi)

Suatu hari dia mendengar paman dan bibinya berbicara tentang rencana meninggalkan istana karena mereka berdua ingin pergi ke Ameria dan mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membawa serta Snow White.


Snow White tidak ingin paman dan bibinya melakukan hal tersebut, sehingga dia memutuskan akan lebih baik jika dia pergi. Pagi harinya dia pergi dari rumah ketika paman dan bibinya sedang sarapan. Dia lari ke dalam hutan.


(Resolusi)

Kemudian dia melihat gubuk kecil. Dia mengetuk pintu tetapi tidak ada yang menjawab sehingga dia masuk dan merasa ngantuk.
Sementara itu, tujuh kurcaci telah pulang dari pekerjaannya. Mereka masuk, di sana mereka menemukan Snow White tertidur. Kemudian Snow White terbangun. Dia melihat kurcaci tersebut. Kurcaci tersebut berkata “Siapa nama kamu? “Snow White menjawab, “Nama saya Snow White.”


(Koda)

Doc, salah satu dari kurcaci tersebut berkata, “Jika kamu mau, kamu bisa tinggal di sini bersama kami.”Snow White berkata, “Oh, bolehkah? Terimakasih. “Kemudian Snow White menceritakan semua kisahnya dan akhirnya Snow White dan 7 kurcaci hidup bahagi selamanya.

Liat Juga : 10 Pengertian, Unsur Intrinsik Dan Ekstrensik Dongeng


Kasuari dan Dara Mahkota

Dahulu kala burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. Dia memiliki sayap yang lebar dan kuat sehingga ia bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah.


Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya.


Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya. “Biar saja!” pikirnya, “Salah sendiri kenapa mereka punya sayap yang pendek dan badan yang kecil. Siapa cepat dia yang dapat.”


Tentu saja kesombongannya tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan keangkuhannya harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini.


Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari.


Tiba-tiba burung Dara Mahkota mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena Dara Mahkota hanyalah burung kecil, tapi Dara Mahkota meyakinkan mereka bahwa dia mampu.


Mereka lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.


“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”


“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”


Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya. “Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.


Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk menyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap Dara Mahkota akan memenangkan pertandingan tersebut.


Diam-diam Dara Mahkota menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya. Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”.


Burng-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara Dara Mahkota hanya tersenyum menanggapinya.


Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap Dara Mahkota. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. Dara Mahkota pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap Dara Mahkota yang patah.


Kini giliran Dara Mahkota yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.

Liat Juga : “Bercerita” 10 Pengertian Menurut Para Ahli & ( Jenis – Manfaat – Tujuan )


Sekarang mereka sudah siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, Dara Mahkota dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa.


Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap Dara Mahkota telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah.


Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas. Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.


Kiki dan Kiku

Ada dua ekor burung kecil yang tinggal di dahan pohon. Mereka bernama Kiki dan Kiku. Kedua burung itu bersahabat, tetapi tabiat mereka berbeda. Kiki selalu bangun pagi sebelum matahari terbit.


Ia berolahraga di dahan-dahan pohon, meloncat dari dahan ke dahan, terbang mengelilingi pohon-pohon dan menyanyi. Kiki paling senang, bila ia dapat melihat matahari terbit.


“Selamat pagi, matahari yang baik,” sapa Kiki ramah.


“Selamat pagi juga, Kiki! Ho ho ho, pagi ini lagi-lagi kau bangun lebih pagi dariku,” sahut Matahari.


Matahari dan Kiki hampir setiap hari mengobrol. Kalau Kiki rajin bangun pagi, Kiku sebaliknya. Ia tak pernah bangun kalau matahari belum berada di atas pucuk pohon. Karena tidur terlalu lama dan jarang berolahraga, Kiku sering sakit. Kiki jengkel dengan kemalasan Kiku. Karena ia tak bisa membereskan tempat tidurnya pada pagi hari.


Kiki mencari akal agar Kiku tidak malas bangun pagi lagi.


“Kiku, pernahkah engkau makan cacing?” tanya Kiki pada suatu hari.


“Belum, bagaimana rasanya?” Kiku merasa tertarik.


“Belum pernah makan cacing? Kalau begitu jangan sebut dirimu burung. Setiap burung sejati pasti pernah makan cacing setiap pagi,” kata Kiki sambil menepuk dada.


“Kalau begitu aku akan mencari cacing,” kata Kiku penasaran. “Kau akan cari cacing di mana?” ejek Kiki.


“Aku? Aku tidak tahu,” sahut Kiki malu. “Aku mau memberi tahu. Asal kau mau bangun pagi-pagi besok.” “Baiklah!”


Esok harinya, seperti biasa Kiku bangun sebelum matahari terbit. Ia bersusah payah membangunkan Kiku. Karena Kiku masih mengantuk, Kiku sering menutup matanya.


“Lihat Kiku! Bu Ayam sedang mengais-ngais tanah. Cacingnya banyak sekali! Tidakkah engkau ingin memakannya?” tanya Kiki. Seketika itu Kiku yang berjalan sambil terkantuk-kantuk, membuka matanya.


“Petok. petook! Ayo, Kiki, ajak temanmu sarapan bersama,” ajak Bu Ayam. Mereka pun sarapan pagi dengan gembira.


“Kiki, aku sudah makan cacing. Jadi aku adalah burung sejati,” kata Kiku. “Tapi burung sejati pun selalu bangun sebelum matahari terbit,” kata kiki.


“Aku akan membiasakan bangun pagi mulai sekarang. Karena ternyata bangun pagi itu menyenangkan. Aku merasa badanku sangat sehat,” kata Kiku.


“Mulai sekarang kita bisa berolahraga pagi,” kata Kiki. “Tentu!”


“Kalau begitu mari kita terbang. Satu, dua, tiga!” seru Kiki. Kedua burung itu melesat ke udara. Mereka terbang dengan riang di antara dahan-dahan pohon.


Si Kancil Kena Batunya

Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan dihutan sambil membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata,”Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku”.


Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. “Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya”.


Si kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk dibongkahan batu yang besar. Si siput berkata,”Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira ?”. Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia menemukan letak si siput.


“Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya ?”. Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan !. “Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam”. Ujar si kancil.


Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel. Lalu siputpun berkata,”Hai kancil !, kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat”. Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.


Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada dijalur lomba. “Jangan lupa, kalian bersembunyi dibalik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil,” kata siput.


Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air.


Setelah beberapa langkah, kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru,”Hai Kancil ! Aku sudah sampai sini.” Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi.


Ternyata siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.


Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,”Kancil memang tiada duanya.” Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar. “Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari ?”. Ejek siput. “Tidak mungkin !”, “Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang”, seru si kancil.


“Sudahlah akui saja kekalahanmu,”ujar siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya. “Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok.


Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka”, ujar siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.


Demikianlah pembahasan mengenai Artikel Tentang Fabel semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂