Kata Serapan

Diposting pada

Pengertian Kata

Kata Serapan -Pengertian, Daftar, Bahasa Arab, Penulisan & Contoh – DosenPendidikan.Com– Secara Etimologi Kata dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kathā. Dalam bahasa Sansekerta katha sebenarnya artinya adalah “konversasi”, “bahasa”, “cerita” atau “dongeng”. Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi “kata”.


Pengertian Kata Serapan

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing yang sudah diintegrasikan ke dalam suatu bahasa dan diterima pemakaiannya secara umum. Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu,


namun manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu–yang sering dianggap lebih mudah–adalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.


Kata Serapan


Penyerapan Kata Asing terjadi karena beberapa hal berikut:

  1. Kata asing tersebut lebih cocok konotasinya.
  2. Bercorak Internasional
  3. Lebih singkat dibandingkan dengan terjemahannya.
  4. Mempermudah karena dalam bahasa Indonesia terlalu banyak sinonimnya.

Unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.

  1. Unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia
  2. Unsur asing yang penulisan dan pengucapannya di sesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Macam-Macam Kata Serapan

  • Adaptasi

Mengambil makna kata asing. Sedangkan ejaan disesuaikan dengan bahasa Indonesia
Contoh : pluralisasi (Inggris: pluralization),  maksimal (Jerman: maximaal)

  • Sufiks Serapan
  1. Sufiks dari bahasa Belanda seperti ,-si ‘nominal’, -is ‘adjektival, -isme ‘nominal’, -asi’nominal, -er ‘verbal’, -us ‘nominal’ .
  2. Sufiks serapan dari bahasa Inggris seperti -s ‘jamak’, -ik ‘adjektival’, -i ‘adjektiva.
  • Adaptasi Negatif

Jika dasar kata konsonan awalnya tidak bersuara (p,t,k,c,s) maka konsonan itu lenyap. Dalam bahasa Indonesia pukul menjadi memukul, tinjau menjadi meninjau, kunyah menjadi mengunyah, sobek menjadi menyobek. Sebaliknya, jika kata serapan bergabung dengan prefiks maka kata tersebut menyimpang dari peraturan. Traktir menjadi mentraktir, politiser menjadi mempolitiser, kopi ‘foto kopi’ menjadi mengkopi, dan fokus menjadi memfokuskan.


  • Kata Serapan Budaya (Cultura Borrowing)

Kata-kata asing yang masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia

Contoh : Dewi-dewi (Sansekerta), super market (Inggris)

  • Kata Serapan Mesra (Intimate Borrowing)

Dua bahasa dipakai dalam suatu daerah yang secara topografis dan politis merupakan satu komunitas.

Contoh : bestik (Belanda befstik)


  • Adopsi

Ketika kata asing diadopsi dalam bahasa Indonesia. Adopsi pertama, konsepnya diadopsi, tetapi tetap memakai kata bahasa Indonesia. Misalnya kata sholat (bahasa Arab) dalam bahasa Indonesia menjadi sembahyang.

  1. Adopsi kedua, kata bahasa Inggris yang berupa frasa diterjemahkan secara harafiah dalam bahasa Indonesia. Frasa bahasa Inggris fifteen seconds from now menjadi lima belas detik dari sekarang.
  2. Adopsi ketiga, konsep dan bentuk diadopsi, tetapi artinya berubah. Misalnya, kata retool dalam bahasa Inggris artinya ‘mengganti pealatan’. “Menteri yang tidak becus akan diritul”. Diritul di sini berarti diganti atau dipecat.

Kata Serapan Masuk Ke Dalam Bahasa Indonesia Dengan 4 Cara Yaitu :

  • Cara Adopsi

Terjadi apabila pemakai bahasa mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara keseluruhan.

Contoh : supermarket, plaza, mall


  • Cara Adaptasi

Terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia

Contoh :

Pluralization → pluralisasi
Acceptability → akseptabilitas


  • Penerjemahan

Terjadi apabila pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu, kemudian kata tersebut dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia

Contoh :

Overlap → tumpang tindih
Try out → uji coba


Baca Juga : Sinopsis Adalah


  • Kreasi

Terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil konsep dasar yangada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip dengan cara penerjemahan, akan tetapi memiliki perbedaan. Cara kreasi tidak menuntut bentuk fisik yang mirip seperti penerjemahan. Boleh saja kata yang ada dalam bahasa aslinya ditulis dalam 2 atau 3 kata, sedangkan bahasa Indonesianya hanya satu kata saja.

Contoh :

Effective → berhasil guna
Spare parts → suku cabang


Kata Serapan Sebagai Bagian Perkembangan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia dari awal pertumbuhannya sampai sekarang telah banyak menyerap unsur-unsur asing terutarna dalam hal kosa kata. Bahasa asing yang memberi pengaruh kosa kata dalam bahasa Indonesia antara lain : bahasa Sansekerta, bahasa Belanda, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Masuknya unsur-unsur asing ini secara historis juga sejalan dengan kontak budaya antara bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa pemberi pengaruh. Unsur-unsur asing ini telah menambah sejumlah besar kata ke dalam bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman.


Berikut adalah table dimana perhitungan jumlah kata serapan bahasa asing yang menjadi bahasa baku Indonesia sekarang :

perhitungan jumlah kata serapan bahasa

Dalam perkembangannya bahasa Indonesia mengambil unsur atau kata dari bahasa lain, seperti bahasa daerah atau bahasa asing. Sudah banyak kosa kata dari bahasa asing dan daerah yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Terlebih dahulu kata-kata itu disesuaikan dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia, baik itu dalam hal pengucapan maupun penulisannya. Kata-kata sepeerti itulah yang dinamakan dengan Kata-Kata Serapan.


Baca Juga : Fiksi adalah


Proses penyerapan itu dapat dipertimbangkan jika salah satu syarat dibawah ini terpenuhi, yaitu :

  1. Istilah serapan yang dipilih cocok konotasinya
  2. Istilah yang dipilih lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya

Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia terlalu banyak sinonimya.


Sejarah hubungan dengan penutur

Telah berabad-abad lamanya nenek moyang penutur bahasa Indonesia berhubungan dengan berbagai bangsa di dunia. Bahasa Sanskerta tercatat terawal dibawa masuk ke Indonesia yakni sejak mula tarikh Masehi. Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa sastra dan perantara dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu tersebar luas di pulau Jawa pada abad ke-7 dan ke-8, lalu agama Buddha mengalami keadaan yang sama pada abad ke-8 dan ke-9.


Hubungan dengan penutur India dan persekitarannya

Beriringan dengan perkembangan agama Hndu itu berlangsung pula perdagangan rempah-rempah dengan bangsa India yang sebagian dari mereka penutur bahasa Hindi, sebagian yang lain orang Tamil dari India bagian selatan dan Sri Lanka bagian timur yang bahasanya menjadi perantara karya sastra yang subur. Bahasa Tamil pernah memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu.


  • Hubungan dengan penutur Cina

Hubungan ini sudah terjadi sejak abad ke-7 ketika para saudagar Cina berdagang ke Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, bahkan sampai juga ke Maluku Utara. Pada saat Kerajaan Sriwijaya muncul dan kukuh, Cina membuka hubungan diplomatik dengannya untuk mengamankan usaha perdagangan dan pelayarannya. Pada tahun 922 musafir Cina melawat ke Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Sejak abad ke-11 ratusan ribu perantau Cina meninggalkan tanah leluhurnya dan menetap di banyak bagian Nusantara (Kepulauan Antara, sebutan bagi Indonesia).


Yang disubut dengan bahasa Cina adalah bahasa di negara Cina (banyak bahasa). Empat di antara bahasa-bahasa itu yang di kenal di Indonesia yakni Amoi, Hakka, Kanton, dan Mandarin. Kontak yang begitu lama dengan penutur Cina ini mengakibatkan perolehan kata serapan yang banyak pula dari bahasa Cina, namun penggunaannya tidak digunakan sebagai perantara keagamaan, keilmuan, dan kesusastraan di Indonesia sehingga ia tidak terpelihara keasliannya dan sangat mungkin banyak ia berbaur dengan bahasa di Indonesia. Contohnya anglo, bakso, cat, giwang, kue/ kuih, sampan, dan tahu.


Baca Juga : Konjungsi adalah


  • Hubungan dengan penutur Arab

Bahasa Arab dibawa ke Indonesia mulai abad ketujuh oleh saudagar dari Persia, India, dan Arab yang juga menjadi penyebar agama Islam. Kosakata bahasa Arab yang merupakan bahasa pengungkapan agama Islam mula berpengaruh ke dalam bahasa Melayu terutama sejak abad ke-12 saat banyak raja memeluk agama Islam. Kata-kata serapan dari bahasa Arab misalnya abad, bandar, daftar, edar, fasik, gairah, hadiah, hakim, ibarat, jilid, kudus, mimbar, sehat, taat, dan wajah. Karena banyak di antara pedagang itu adalah penutur bahasa Parsi, tidak sedikit kosakata Parsi masuk ke dalam bahasa Melayu, seperti acar, baju, domba, kenduri, piala, saudagar, dan topan.


  • Hubungan dengan penutur Portugis

Bahasa Portugis dikenali masyarakat penutur bahasa Melayu sejak bangsa Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 setelah setahun sebelumnya ia menduduki Goa. Portugis dikecundangi atas saingan dengan Belanda yang datang kemudian dan menyingkir ke daerah timur Nusantara. Meski demikian, pada abad ke-17 bahasa Portugis sudah menjadi bahasa perhubungan antaretnis di samping bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Portugis seperti algojo, bangku, dadu, gardu, meja, picu, renda, dan tenda.


  • Hubungan dengan penutur Belanda

Belanda mendatangi Nusantara pada awal abad ke-17 ketika ia mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1606, kemudian ia menuju ke pulau Jawa dan daerah lain di sebelah barat. Sejak itulah, secara bertahap Belanda menguasai banyak daerah di Indonesia. Bahasa Belanda tidak sepenuhnya dapat menggeser kedudukan bahasa Portugis karena pada dasarnya bahasa Belanda lebih sukar untuk dipelajari, lagipula orang-orang Belanda sendiri tidak suka membuka diri bagi orang-orang yang ingin mempelajari kebudayaan Belanda termasuklah bahasanya.


Hanya saja pendudukannya semakin luas meliputi hampir di seluruh negeri dalam kurun waktu yang lama (350 tahun penjajahan Belanda di Indonesia). Belanda juga merupakan sumber utama untuk menimba ilmu bagi kaum pergerakan. Maka itu, komunikasi gagasan kenegaraan pada saat negara Indonesia didirikan banyak mengacu pada bahasa Belanda. Kata-kata serapan dari bahasa Belanda seperti abonemen, bangkrut, dongkrak, ember, formulir, dan tekor.


  • Hubungan dengan penutur Inggris

Bangsa Inggris tercatat pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Raffles menginvasi Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1811 dan beliau bertugas di sana selama lima tahun. Sebelum dipindahkan ke Singapura, dia juga bertugas di Bengkulu pada tahun 1818. Sesungguhnya pada tahun 1696 pun Inggris pernah mengirim utusan Ralph Orp ke Padang (Sumatra Barat), namun dia mendarat di Bengkulu dan menetap di sana. Di Bengkulu juga dibangun Benteng Marlborough pada tahun 1714-1719. Itu bererti sedikit banyak hubungan dengan bangsa Inggris telah terjadi lama di daerah yang dekat dengan pusat pemakaian bahasa Melayu.


Baca Juga : Contoh Teks Deskripsi


  • Hubungan dengan penutur Jepang

Pendudukan Jepang di Indonesia yang selama tiga setengah tahun tidak meninggalkan warisan yang dapat bertahan melewati beberapa angkatan. Kata-kata serapan dari bahasa Jepang yang digunakan umumnya bukanlah hasil hubungan bahasa pada masa pendudukan, melainkan imbas kekuatan ekonomi dan teknologinya.


Perbendaharaan Kata Serapan

Di antara bahasa-bahasa di atas, ada beberapa yang tidak lagi menjadi sumber penyerapan kata baru yaitu bahasa Tamil, Parsi, Hindi, dan Portugis. Kedudukan mereka telah tergeser oleh bahasa Inggris yang penggunaannya lebih mendunia. Walaupun begitu, bukan bererti hanya bahasa Inggris yang menjadi rujukan penyerapan bahasa Indonesia pada masa yang akan datang.


Penyerapan kata dari bahasa Cina sampai sekarang masih terjadi di bidang pariboga termasuk bahasa Jepang yang agaknya juga potensial menjadi sumber penyerapan.

Di antara penutur bahasa Indonesia beranggapan bahwa bahasa Sanskerta yang sudah ’mati’ itu merupakan sesuatu yang bernilai tinggi dan klasik. Alasan itulah yang menjadi pendorong penghidupan kembali bahasa tersebut. Kata-kata Sanskerta sering diserap dari sumber yang tidak langsung, yaitu Jawa Kuna. Sistem morfologi bahasa Jawa Kuna lebih dekat kepada bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa Kuna misalnya acara, bahtera, cakrawala, darma, gapura, jaksa, kerja, lambat, menteri, perkasa, sangsi, tatkala, dan wanita.


Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan, terutama dalam bidang agama Islam. Kata rela (senang hati) dan korban (yang menderita akibat suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke dalam bahasa Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran makna, masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (perkenan) dan kurban (persembahan kepada Tuhan). Dua kata terakhir berkaitan dengan konsep keagamaan. Ia umumnya dipelihara betul sehingga makna (kadang-kadang juga bentuknya) cenderung tidak mengalami perubahan.


Sebelum Ch. A. van Ophuijsen menerbitkan sistem ejaan untuk bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis tidak menjadi pertimbangan penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan disesuaikan pada lafalnya saja.

Meski kontak budaya dengan penutur bahasa-bahasa itu berkesan silih berganti, proses penyerapan itu ada kalanya pada kurun waktu yang tmpang tindih sehingga orang-orang dapat mengenali suatu kata serapan berasal dari bahasa yang mereka kenal saja, misalnya pompa dan kapten sebagai serapan dari bahasa Portugis, Belanda, atau Inggris. Kata alkohol yang sebenar asalnya dari bahasa Arab, tetapi sebagian besar orang agaknya mengenal kata itu berasal dari bahasa Belanda.


Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam kosa kata Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, namun ada juga kata-kata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di Indonesia antara masa kolonialisme Belanda.. Kata-kata itu seperti kalar, sepanar, dan wesket. Juga badminton, kiper, gol, bridge.


Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda sumbernya tidak disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang yang lebih dikenal adalah bahasa Inggris.


Baca Juga : Teks Anekdot


Daftar kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia

  • Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya

  1. abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, asli, awal, akhir, azan,
  2. bakhil, baligh, batil, barakah,
  3. daftar,
  4. hikayat, hikmah, halal, haram, hakim, haji,
  5. ilmu, insan,

  6. jawab,
  7. khas, khianat, khidmat, khitan, kiamat, (al)kitab, kuliah, kursi, kertas,
  8. lafaz,
  9. munafik, mualaf, musyawarah, markas, mistar, malaikat, mahkamah, musibah, mungkar, maut, mimbar
  10. nisbah, napas,
  11. syariat, salat,
  12. ulama,
  13. wajib,
  14. ziarah, zina(h), zakat

  • Lafalnya berubah, artinya tetap

  1. berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah
  2. buya dari kata abuya
  3. derajat dari kata darajah
  4. jenis dari kata jins
  5. kabar dari kata khabar
  6. katulistiwa dari kata khat al-istiwa
  7. lafal dari kata lafazh
  8. lalim dari kata zhalim
  9. makalah dari kata maqalatun

  10. masalah dari kata mas-alatun
  11. menara dari kata minarah
  12. mungkin dari kata mumkinun
  13. resmi dari kata rasmiyyun
  14. soal dari kata suaalun
  15. rezeki dari kata rizq
  16. Sekarat dari kata sakaraat
  17. Serikat dari kata syirkah
  18. Nama-nama hari dalam sepekan : Ahad (belakangan jadi Minggu artinya=1 atau hari Ahad), Senin (Isnaini=2 atau hari Senin), Selasa (Tsulatsaa), Rabu (Arbi’aa), Kamis (Khamiis), Jumat (Jumu’ah) dan Sabtu (sabtun)

Kata serapan dari bahasa Belanda

  • Aki- accu

Definisi Aki. Aki atau Storage Battery adalah sebuah sel atau elemen sekunder dan merupakan sumber arus listrik searah yang dapat mengubah energy kimia menjadi energy listrik.

  • Voltase – voltage

Perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt.

  • Mesin- machine

Mesin adalah alat mekanik atau elektrik yang mengirim atau mengubah energi untuk melakukan atau membantu pelaksanaan tugas manusia.


Kata serapan dari bahasa Inggris

  • Mekanika – mechanicus

Jenis ilmu khusus yang mempelajari fungsi dan pelaksanaan mesin, alat atau benda yang seperti mesin.

  • Komputer – computer

Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan.


Cara Penyerapan Kata Asing Dalam Bahasa Indonesia


Penyesuaian fonem

  • Tanpa perubahan

  1. ae jika tidak bervariasi dengan e. Contoh: aerobe → aerob.
  2. ai
  3. au
  4. e
  5. ea
  6. ei
  7. eo
  8. eu
  9. f

  10. i jika di awal suku kata di muka vokal. Contoh: ion → ion.
  11. ie jika lafalnya bukan i. Contoh: variety → varietas.
  12.  kh (Arab)
  13. ng
  14. ps
  15. pt
  16. u
  17. ua
  18. ue
  19. ui
  20. uo
  21. v
  22. x, jika di awal kata. Contoh: xenon → xenon.
  23. y, jika lafalnya y. Contoh: yen → yen.
  24. z.

  • Dengan perubahan

  1. aa (Belanda) → a. Contoh: octaaf → oktaf.
  2. ae → e, jika bervariasi dengan e. Contoh: haemoglobin → hemoglobin.
  3. c → k, jika di muka a, u, o, dan konsonan. Contoh: crystal → kristal.
  4. c → s, jika di muka e, i, oe, dan y. Contoh: cylinder → silinder.
  5. cc → k, jika di muka o, u, dan konsonan. Contoh: accumulation → akumulasi.

  6. cc → ks, jika di muka e dan i. Contoh: accent → aksen.
  7. ch dan cch → k, jika di muka a, o, dan konsonan. Contoh: saccharin → sakarin.
  8. ch → s, jika lafalnya s atau sy. Contoh: machine → mesin.
  9. ch → c, jika lafalnya c. Contoh: check → cek.
  10. ç (Sansekerta) → s. Contoh: çāstra → sastra.
  11. ee (Belanda) → e. Contoh: systeem → sistem.
  12. gh → g. Contoh: sorghum → sorgum.

  13. gue → ge
  14. ie (Belanda) → i, jika lafalnya i. Contoh: politiek → politik.
  15. oe (oi Yunani) → e
  16. oo (Belanda) → o. Contoh: komfoor → kompor.
  17. oo (Inggris) → u. Contoh: cartoon → kartun.
  18. oo (vokal ganda) tetap. Contoh: zoology → zoologi.
  19. ph → f. Contoh: phase → fase.
  20.  q → k
  21. rh → r. Contoh: rhetoric → retorika.

  22. sc → sk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: scriptie → skripsi.
  23. sc → s, jika di muka e, i, dan y. Contoh: scenography → senografi.
  24. sch → sk, jika di muka vokal. Contoh: schema → skema.
  25. t → s, jika di muka i. Contoh: ratio → rasio.
  26. th → t. Contoh: methode → metode.
  27. uu → u. Contoh: vacuum → vakum.
  28. v (Sanskerta) → w atau v
  29. x → ks, jika tidak di awal kata. Contoh: exception → eksepsi.
  30. xc → ksk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: excavation → ekskavasi.
  31. y → i, jika lafalnya i. Contoh: dynamo → dinamo.
  32. konsonan ganda menjadi konsonan tunggal, kecuali jika dapat membingungkan. Contoh: effect → efek, mass → massa.

Baca Juga : Dialog Interaktif


Penyesuaian akhiran

  • Tanpa perubahan

  1. -anda, -andum, -endum
  2. -ar
  3. -ase, -ose
  4. -ein
  5. -ein. Contoh: protein → protein.
  6. -et
  7. -or. Contoh: dictator → diktator.
  8. -ot

  • Dengan perubahan

  1. -(a)tion, -(a)tie (Belanda) → -(a)si. Contoh: action, actie → aksi.
  2. -aat (Belanda) → -at. Contoh: plaat → pelat.
  3. -able, -ble → -bel
  4. -ac → -ak
  5. -acy, -cy → -asi, -si
  6. -age → -ase. Contoh: percentage → persentase.
  7. -air → -er
  8. -al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) → -al. Contoh: formeel → formal.
  9. -ance, -ence → -ans, -ens (yang bervariasi dengan -ancy, -ency)
  10. -ancy, -ency → -ansi, -ensi (yang bervariasi dengan -ance, -ence)
  11. -ant → -an. Contoh: accountant → akuntan.
  12. -archy, -archie (Belanda) → -arki. Contoh: anarchy, anarchie → anarki.
  13. -ary, -air (Belanda) → -er. Contoh: primary, primair → primer.
  14. -asm → -asme
  15. -ate → -at

  16. -eel (Belanda) → -el, jika tak ada padanan dalam bahasa Inggris.
  17. -end → -en
  18. -ete, -ette → -et
  19. -eur (Belanda), -or → -ur, -ir. Contoh: director, directeur → direktur.
  20. -eus (Belanda) → -us
  21. -ic, -ique → -ik
  22. -icle → -ikel

  23. -ics, -ica → -ik, -ika. Contoh: logic, logica → logika.
  24. -id, -ide → -ida
  25. -ief, -ive → -if. Contoh: descriptive, descriptief → deskriptif.
  26. -iel, -ile, -le → -il. Contoh: percentile → persentil.
  27.  -ific → -ifik
  28. -isch, -ic → -ik. Contoh: elektronic → elektronik
  29. -isch, -ical → -is. Contoh: optimistisch, optimistical → optimistis
  30. -ism, -isme (Belanda) → -isme. Contoh: modernism, modernisme → modernisme. Beberapa perkecualian: prism->prisma, schism->skisma
  31. -ist → -is. Contoh: egoist → egois.
  32. -ite → -it

  33. -ity → -itas
  34. -logue → -log. Contoh: dialogue → dialog.
  35. -logy, -logie → -logi. Contoh: analogy, analogie → analogi.
  36. -loog (Belanda) → -log. Contoh: epiloog → epilog.
  37.  -oid, -oïde (Belanda) → -oid. Contoh: hominoid, hominoide → hominoid.
  38. -oir(e) → -oar. Contoh: trottoir → trotoar.
  39. -ous ditanggalkan
  40. -sion, -tion → -si
  41.  -sy → -si
  42. -ter, -tre → -ter
  43. -ty, -teit → -tas . Contoh: university, universiteit → universitas.
  44. -ure, -uur → -ur. Contoh: premature, prematuur → prematur.

Penyesuaian awalan

  • Tanpa perubahan

  1. a-, ab-, abs- (“dari”, “menyimpang dari”, “menjauhkan dari”)
  2. a-, an- (“tidak”, “bukan”, “tanpa”)
  3.  am-, amb- (“sekeliling”, “keduanya”)
  4. ana-, an- (“ke atas”, “ke belakang”, “terbalik”)
  5. ante- (“sebelum”, “depan”)
  6. anti-, ant- (“bertentangan dengan”)
  7. apo- (“lepas”, “terpisah”, “berhubungan dengan”)
  8. aut-, auto- (“sendiri”, “bertindak sendiri”)
  9. bi- (“pada kedua sisi”, “dua”)

  10. de- (“memindahkan”, “mengurangi”)
  11. di- (“dua kali”, “mengandung dua …”)
  12. dia- (“melalui”, “melintas”)
  13. dis- (“ketiadaan”, “tidak”)
  14. em-, en- (“dalam”, “di dalam”)
  15. endo- (“di dalam”)
  16. epi- (“di atas”, “sesudah”)
  17. hemi- (“separuh”, “setengah”)
  18. hemo- (“darah”)
  19. hepta- (“tujuh”, “mengandung tujuh”)
  20. hetero- (“lain”, “berada”)
  21. im-, in- (“tidak”, “di dalam”, “ke dalam”)
  22. infra- (“bawah”, “di bawah”, “di dalam”)
  23. inter- (“antara”, “saling”)
  24. intro- (“dalam”, “ke dalam”)

  25. iso- (“sama”)
  26. meta- (“sesudah”, “berubah”, “perubahan”)
  27. mono- (“tunggal”, “mengandung satu”)
  28. pan-, pant-, panto (“semua”, “keseluruhan”)
  29. para- (“di samping”, “erat berhubungan dengan”, “hampir”)
  30. penta- (“lima”, “mengandung lima”)
  31. peri- (“sekeliling”, “dekat”, “melingkupi”)
  32. pre-(“sebelum”, “sebelumnya”, “di muka”)
  33. pro- (“sebelum”, “di depan”)
  34. proto- (“pertama”, “mula-mula”)

  35. pseudo-, pseud- (“palsu”)
  36. re- (“lagi”, “kembali”)
  37. retro- (“ke belakang”, “terletak di belakang”)
  38. semi- (“separuhnya”, “sedikit banyak”)
  39. sub- (“bawah”, “di bawah”, “agak”, “hampir”)
  40. super-, sur- (“lebih dari”, “berada di atas”)
  41. supra- (“unggul”, “melebihi”)
  42. tele- (“jauh”, “melewati”, “jarak”)
  43. trans- (“ke/di seberang”, “lewat”, “mengalihkan”)
  44. tri- (“tiga”)
  45. ultra- (“melebihi”, “super”)
  46. uni- (“satu”, “tunggal”)

Baca Juga : Wacana Adalah


  • Dengan perubahan

  1. ad-, ac- → ad-, ak- (“ke”, “berdekatan dengan”, “melekat pada”)
  2. cata- → kata- (“bawah”, “sesuai dengan”)
  3. co-, com-, con- → ko-, kom-, kon- (“dengan”, “bersama-sama”, “berhubungan dengan”)
  4. contra- → kontra- (“menentang”, “berlawanan”)
  5. ec-, eco- → ek-, eko- (“lingkungan hidup”)
  6. ex- → eks- (“sebelah luar”, “mengeluarkan”)
  7. exo-, ex- → ekso-, eks- (“di luar”)
  8. extra- → ekstra- (“di luar”)
  9. hexa- → heksa- (“enam”, “mengandung enam”)
  10. hyper- → hiper- (“di atas”, “lewat”, “super”)
  11. hypo- → hipo- (“bawah”, “di bawah”)
  12. poly- → poli- (“banyak”, “berkelebihan”)
  13. quasi- → kuasi- (“seolah-olah”, “kira-kira”)
  14. syn- → sin- (“dengan”, “bersama-sama”, “pada waktu”)

  • Penyerapan dengan penerjemahan

  1. a- → tak-. Contoh: asymetric → tak simetri
  2. ante- → purba-. Contoh: antedate → purbatanggal
  3. anti- → prati-. Contoh: antibiotics → pratirasa
  4. auto- → swa-. Contoh: autobiography → swariwayat
  5. de- → awa-. Contoh: demultiplexing → awa-pemultipleksan
  6. bi- → dwi-, bi-. Contoh: bilingual → dwibahasa
  7. inter- → antar-, inter-. Contoh: international → antarbangsa
  8. mal- → mal-, mala-. Contoh: malnutrition → malagizi, malnutrisi
  9. post- → pasca-. Contoh: postgraduate → pascasarjana → purna-. Contoh: purnawirawan
  10. pre- → pra-. Contoh: prehistory → prasejarah
  11. -ble → laik-. Contoh: edible → laik-santap
  12. -like → lir-, bak-. Contoh: jelly-like → liragar
  13. -less → nir-, awa-, mala-, tan-. Contoh: seedless → nirbiji; colourless → awawarna, tanwarna

Aturan penyerapan imbuhan

Aturan-aturan imbuhan serapan dari bahasa asing mengikuti aturan yang kurang lebih sama dengan aturan pembentukan kata berimbuhan lain.

  • Disambung jika menggunakan kata dasar. Contoh: dwiwarna, pascasarjana.
  • Dipisah jika menggunakan kata bentukan atau turunan. Contoh: pra pemilu.
  • Diberi tanda hubung jika kata dasar berawalan huruf kapital. Contoh: non-Indonesia, anti-Israel.

Baca Juga : Kata Sapaan


Analisis Kesalahan Berbahasa

Perbedaan tingkat pendidikan ataupun golongan ternyata juga berpengaruh terhadap gaya penulisan. Pembaca dari kalangan pendidikan menengah cenderung bersikap mengacuhkan gaya penulisan dan sturuktur kalimat karena yang dipentingkan oleh mereka adalah pesan yang ingin disampaikan. Lain halnya dengan para akademisi ataupun golongan terpelajar. Gaya penulisan mereka sedikit berbeda, terutama dalam segi kebakuan dan ketidakbakuan kata/kalimat. Akan tetapi, dalam realitanya masih terdapat juga kesalahan-kesalahan yang ditemukan dalam hal penulisannya.


Kesalahan-kesalahan berbahasa yang tejadi itu merupakan indikasi dari kurangnya pemahaman terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia selalu berkembang dari waktu ke waktu dan mau tidak mau harus dapat diikuti dengan baik oleh masyarakat. Surat kabar sebagai media informasi bagi masyarakat sudah tentu harus dapat memberi contoh bahasa Indonesia yang baik dan benar. Editor dapat menampilkan format surat pembaca yang tepat penulisannya dengan meng-edit atau memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam surat-surat tersebut. Dengan demikian, akan diperoleh pula pemahaman tentang bahasa yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia.


Contoh :

  • Lebar tanah yang akan dijual luasnya mencapai 10 hectare. (tidak tepat)
  • Lebar tanah yang akan dijual luasnya mencapai 10 hektar. (tepat)
  1. Andi mendownload program All-quran. (tidak tepat)
  2. Andi mengunduh program Al-quran. (tidak tepat)
  • Upayakan penambahan artikel yang sifatnya informasi dan analisa serta harapan penyelesaian, sehingga Koran ini bisa bertahan dibaca minimal 40 menit, syukur meningkat. (tidak tepat)
  • Upayakan penambahan artikel yang informatif dan analitis serta harapan penyelesaian koran ini bisa bertahan dibaca minimal 40 menit, syukur meningkat. (tepat)
  1. Extra kulikuler yang tersedia di IAIN Raden Intan antara lain : IBRAH, KAMMI, SBI, PRAMUKA, BAPPINDA, BLITZ, ORI, dll. (tidak tepat)
  2. Ekstra kulikuler yang tersedia di IAIN Raden Intan antara lain : IBRAH, KAMMI, SBI, PRAMUKA, BAPPINDA, BLITZ, ORI, dll. (tepat)
  • Almari itu terbuat dari kayu jati. (tidak tepat)
  • Lemari itu terbuat dari kayu jati. (tepat)
  1. Bentuk tubuh hewan dibagi menjadi dua yaitu asymetric dan symetric. (tidak tepat)
  2. Bentuk tubuh hewan dibagi menjadi dua yaitu tidak simetri dan simetri. (tepat)
  • Kecepatan download sebuah file ditentukan oleh besarnya bandwidth yang kita peroleh dari provider internet.(tidak tepat)
  • Kecepatan mengunduh sebuah berkas ditentukan oleh besarnya lebar jalur yang kita peroleh dari penyedia layanan internet. (tepat)

SUMBER :
1. wikipedia Indonesia
2. Kamus besar bahasa Indonesia.
3. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996) yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama Pusat Bahasa).
4. analisis kesalahan berbahasa.com

Sekian penjelasan artikel diatas tentang semoga bermanfaat bagi pembaca setia DosenPendidikan.Com