Standar Nasional Pendidikan – Pengertian, 8 SNP, Makalah, Fungsi, & Analisis

Diposting pada

Standar Nasional Pendidikan – Pengertian, 8 SNP, Makalah, Fungsi, & Analisis – DosenPendidikan.Com – Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui pengajaran pelatihan dan penelitian.

Dan ada juga yang mengatakan definisi pendidikan ialah suatu usaha sadar yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar-mengajar agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Dengan adanya pendidikan maka seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian, kekuatan spiritual dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. Lantas bagaimana standar nasional pendidikan “SNP”, untuk lebih jelasnya simak ulasan selengkapnya dibawah ini.


Pengertian Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Apa yang dimaksud dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP)? Pengertian Standar Nasional Pendidikan ialah suatu kriteria atau standar minimal terkait pelaksanaan sistem pendidikan yang ada di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Fungsi dari Standar Nasional Pendidikan ini ialah sebagai dasar dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas. Sedangkan tujuan utama dari Standar Nasional Pendidikan ialah untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat.


8 Standar Nasional Pendidikan

Menurut penjelasan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), berikut ini ialah 8 standar pendidikan nasional di Indonesia yaitu:


Standar Isi

Hal-hal yang diatur dalam standar Isi mencakup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal untuk jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Di dalam standar isi terdapat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kelender pendidikan.

Peraturan Menteri terkait Standar Isi:

  • Permen No. 22 tahuan 2006
  • Permen No. 24 tahun 2006
  • Permen No. 14 tahun 2007

Standar Kompetensi Lulusan

Pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik menggunakan Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Hal-hal yang diatur dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) mencakup standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

Peraturan Menteri terkait Standar Kompetensi Lulusan:

  • Permen No. 23 Tahun 2006
  • Permen No. 24 Tahun 2006

Standar Proses Pendidikan

Dalam pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menantang dan memotivasi peserta didik untuk aktif berpartisipasi. Proses belajar-mengajar ini juga memberikan ruang bagi kreativitas, prakarsa dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat dan perkembangan psikologis/fisik para peserta didik.

Peraturan Menteri terkait Standar Proses Pendidikan:

  • Permen No. 41 Tahun 2007
  • Permen No. 1 Tahun 2008
  • Permen No. 3 Tahun 2008

Standar Sarana Dan Prasarana

Semua satuan pendidikan harus dilengkapi dengan sarana pendidikan seperti media pendidikan, peralatan pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, perabot dan perlengkapan lainnya. Semua satuan pendidikan harus dilengkapi dengan prasarana pendidikan seperti lahan, ruang kelas, ruang pendidikan, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang perpustakaan dan prasarana pendukung lainnya.

Peraturan Menteri terkait Standar Sarana dan Prasarana:

  • Permen No. 24 Tahun 2007
  • Permen No. 33 Tahun 2008
  • Permen No. 40 Tahun 2008

Standar Pengelolaan

Standar Pengelolaan mencakup tiga bagian yaitu:

  • Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan.
  • Standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah.
  • Standar pengelolaan oleh Pemerintah.

Peraturan Menteri terkait Standar Pengelolaan:

  • Permen No. 19 Tahun 2007

Baca Juga : Pengertian Guru Serta Peran Guru Dalam Bidang Pendidikan


Standar Pembiayaan Pendidikan

Beberapa hal yang termasuk di dalam Standar Pembiayaan Pendidikan ialah biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal.

  • Biaya investasi satuan pendidikan mencakup biaya pengadaan prasarana dan sarana pendidikan, modal kerja tetap dan pengembangan sumber daya manusia.
  • Biaya operasi satuan pendidikan mencakup gaji tenaga pendidik, peralatan pendidikan, biaya pemeliharaan saran dan prasarana, pajak, asuransi dan lain sebagainya.
  • Biaya personal mencakup biaya pendidikan yang harus dibayar peserta didik agar dapat mengikuti proses belajar-mengajar.

Peraturan Menteri terkait Standar Pembiayaan Pendidikan:

  • Permen No. 69 Tahuan 2009

Standar Penilaian Pendidikan

Beberapa hal yang termasuk di dalam standar penilaian pendidikan diantaranya penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah.

Peraturan Menteri terkait Standar Penilaian Pendidikan:

  • Permen No. 20 Tahuan 2007

Standar Pendidik Dan Tenaga Kependidikan

Tenaga pendidikan atau guru harus mempunyai kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat rohani dan jasmani serta mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasioan.

Pendidikan harus memiliki ijazah dan sertifikasi keahlian sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang belaku. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik ialah sebagai berikut:

  • Kompetensi pedagogik
  • Kompetensi kepribadian
  • Kompetensi profesional
  • Kompetensi sosial

Peraturan Menteri terkait Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan:

  • Permen No. 12 Tahun 2007
  • Permen No. 13 Tahun 2007
  • Permen No. 16 Tahun 2007
  • Permen No. 24 Tahun 2008
  • Permen No. 25 Tahun 2008
  • Permen No. 26 Tahun 2008
  • Permen No. 27 Tahun 2008
  • Permen No. 40 – 45 Tahun 2009

Fungsi Dan Tujuan Standar Nasional Pendidikan

Seperti yang sudah disebutkan para paragraf awal sebelumnya, fungsi dan tujuan utama dari Standar Nasional Pendidikan ini ialah sebagai dasar pelaksanaan pendidikan di Indonesia, berikut penjelasan selengkapnya:

  • Standar Nasional Pendidikan memiliki fungsi sebagai acuan atau dasar dalam proses perencaan, pelaksanaan dan pengawasan demi untuk mewujudkan pendidikan nasional yang berkualitas.
  • Standar Pendidikan Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan pendidikan nasional yang bermutu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk karakter, serta peradaban bangsa yang bermartabat.
  • Standar Nasional Pendidikan diselenggarakan secara terencana, terarah dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan perubahan kehidupan nasional dan global.

Baca Juga : Pengertian Landasan Pendidikan Menurut Para Ahli Beserta Jenis Dan Fungsinya


Analisis Standar Nasional Pendidikan

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.Standar Nasional Pendidikan terdiri dari:

  1. Standar Kompetensi Lulusan
  2. Standar Isi
  3. Standar Proses
  4. Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan
  5. Standar Sarana dan Prasarana
  6. Standar Pengelolaan
  7. Standar Pembiayaan Pendidikan
  8. Standar Penilaian Pendidikan

Fungsi dan Tujuan Standar:

  1. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
  2. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
  3. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Perbandingan KTSP dan Kurikulum 2013

Perbandingan pokok antara KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan Kurikulum 2013yang mulai diimplementasikanpada tahuan ajaran 2013/ 2014 dan diluncurkan secara resmi tanggal 15 Juli 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan pembelajaran. Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, sedangkan dalam Kurikulum 2013, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan pemerintah (kecuali khusus untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan satuan pendidikan yang bersangkitan).

Tabel Perbandingan KTSP dengan Kurikulum 2013

Tabel Perbandingan KTSP dengan Kurikulum 2013


Berkaitan dengan Teori Behaviorisme

Teori behaviorisme adalah teori belajar yang menekankan pada hasil belajar dan tidak memperhatikan pada proses berpikir siswa. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma Stimulus-Respon, yaitu suatu proses yang memberikan respon tertentu terhadap stimulus yang datang dari luar. Proses Stimulus-Respon (SR) yaitu dorongan, rangsangan, respon serta penguatan. Teori ini memiliki keunggulan dan kelemahan.


Keunggulan dari teori ini adalah teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa dan teori ini juga membiasakan guru untuk bersikap cermat dan peka pada situasi dan kondisi belajar, sedangkan kelemahan dari teori ini adalah proses pembelajaran berpusat pada guru dan siswa hanya mendengarkan penjelasan dan menghapal saja sehingga siswa menjadi tidak aktif dan tidak dapat berkembang.


Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.


Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun siswa sudah belajar dan gurusudah mengajarkan, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka siswa belum dianggap belajar. Karena siswa belum dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Dalam contoh tersebut, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.


Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati.


Dari penjelasan di atas, dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah sebaiknya tidak cenderung menggunakan teori belajar behaviorisme karena teori ini hanya berpusat pada guru dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan daya imajinasinya sehingga siswa cenderung menjadi pasif dan kurang kreatif.


Berkaitan dengan Teori Konstruktivisme

Teori konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlu pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlu siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.


Artinya, pembelajaran berpusatkan pada siswa. Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya. Berdasarkan konstruktivisme, akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa.


Tujuan konstruktivisme

Tujuan konstruktivisme dalam pembelajaran adalah adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan, membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap, serta mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.


Keunggulan Pendekatan Konstruktivisme

Keunggulan pendekatan konstruktivisme adalah dalam proses membina pengetahuan baru murid lebih berpikir untuk menyelesaikan masalah, merencanakan ide, dan membuat kesimpulan, lebih paham dan mampu mengaplikasikannya, mampu mengingat lebih lama semua konsep, lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru, lebih interaktif karena adanya interaksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru, merasa senang karena mereka paham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat.


Kelemahan Pendekatan Konstruktivisme

Kelemahannya adalah pemahaman para siswa terhadap materi cenderung kurang merata, perlu persiapan yang lebih matang dari pendidik dan peserta didik, tidak jarang hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi yang sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan salah paham akan konsep, dalam membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda, situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.


Kendala-Kendala Penerapan Pendekatan Konstruktivisme

Kemudian kendala-kendala penerapan pendekatan ini adalah peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung, ini juga disebabkan karena sulit mengubah keyakinan dan kebiasaan guru, guru kurang tertarik dan mengalami kesulitan mengelola kegiatan pembelajaran berbasis konstruktivisme, adanya anggapan guru bahwa penggunaan metode atau pendekatan baru dalam pembelajaran akan menggunakan waktu yang cukup banyak, besarnya beban mengajar guru, latar pendidikan guru tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diasuh, sistem evaluasi yang masih menekankan pada nilai akhir, pembelajaran ini mengisyaratkan perubahan sistem evaluasi yang belum diterapkan oleh guru, siswa terbiasa menunggu informasi dari guru, dan adanya budaya negatif di lingkungan siswa.


Dari penjelasan di atas, dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah sebaiknya sistem pembelajaran yang diterapkan mengacu pada pendekatan konstruktivisme karena dari karakteristik pembelajarannya yang dapat memberikan sumbangan besar dalam membentuk manusia yang kreatif, produktif dan mandiri.


Kesimpulannya dalam penerapan Kurikulum 2013 ini,keaktifan siswa 90% lebih diunggulkan daripada guru yang hanya 10%. Sehingga sebaiknya proses pembelajaran dilakukan dengan tidak menerapkan teori behaviorisme, tetapi menerapkan proses pembelajaran dengan pendekatan teori konstruktivisme.

Baca Juga : Sekolah : Pengertian Dan ( Unsur – Fungsi – Jenjang Pendidikan )


Indikator Standar Nasional Pendidikan

Muatan Kurikulum

  • Isi muata kurikulum:
  1. Mata Pelajaran.,
  2. Muatan Lokal.,
  3. Kegiatan Pengembangan Diri.,
  4. Pengaturan Beban Belajar,
  5. Ketuntasan Belajar,
  6. Kenaikan Kelas dan Kelulusan,
  7. Pendidikan Kecakapan Hidup,
  8. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
  9. Dan lainnya

  • Jumlah atau jenis panduan pelaksanaan Muatan kurikulum sekolah
  1. Mata Pelajaran.,
  2. Muatan Lokal.,
  3. Kegiatan Pengembangan Diri.,
  4. Pengaturan Beban Belajar,
  5. Ketuntasan Belajar,
  6. Kenaikan Kelas dan Kelulusan,
  7. Pendidikan Kecakapan Hidup,
  8. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
  9. Dan lainnya

Baca Juga : “Sertifikasi Guru” Pengertian Menurut Para Ahli & ( Landasan Hukum – Tujuan )


Prinsip Pengembangan Kurikulum

  • Prinsip/keharusan melibatkan/bersama pihak-pihak terkait (Guru serumpun, MGMPS, MGMPK, PT, LPMP, Dinas Pendidikan, TPK, Komite Sekolah, dll)
  • Prinsip/keharusan mengacu pada standar kompetensi lulusan dan standar isi dengan pedoman: panduan KURIKULUM, UUSPN 20/2003, PP 19/2005, Permen 22/2006, Permen 23/2006, Panduan KURIKULUM, dll
  • Prinsip umum yang harus dipergunakan adalah mengacu kepada :
  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
  6. Belajar sepanjang hayat,
  7. Seimbang antara kepentingan pusat dan daerah.
  • Prinsip/keharusan ketersediaan referensi
  • Prinsip multi strategi dalam pengembangan kurikulum melalui:
  1. Workshop/seminar orientasi, sosialisasi, dan pemahaman SKL, SI, dan lainnya yang relevan
  2. Workshop pengembangan/penyusunan kurikulum
  3. Validasi hasil penyusunan KURIKULUM
  4. Workshop review dan penyempurnaan
  5. Pendokumentasian hasil akhir penyusunan KURIKULUM

Prinsip Pelaksanaan Kurikulum

  • Prinsip-prinsip umum dalam pelaksanaan kurikulum dalam bentuk pengajaran adalah:
  1. Siswa harus mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis, dan menyenangkan.
  2. Menegakkan 5 pilar belajar (………)
  3. Siswa mendapatkan layanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan atau percepatan.
  4. Suasana hubungan siswa dan guru yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat.
  5. Menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
  6. Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya, serta kekayaan daerah.
  7. Diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
  8. Penggunaan multimedia dalam pelaksanaan kurikulum
  • Ketersediaan referensi/pedoman/acuan/sumber daya umum

Demikianlah pembahasan mengenai Standar Nasional Pendidikan (SNP) : Pengertian Dan ( Fungsi – Tujuan ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua,, terima kasih banyak atas kunjungannya.